Yang Tertinggal

Layaknya burung yang dilepas terbang, perasaan ini melayang tak karuan. Membuncah bak bunga bermekaran, harum, dan melenakan. Entahlah, aku tak mampu menjelaskan segala keresahan di dada. Cukup lelah untuk sekedar menjawabnya. Lelah sekali.
Perasaan itu terlanjur kuberikan. Terlanjur kukalungkan dengan segenap luka yang tertinggal. Berharap suatu hari nanti luka tersebut mampu menjelma menjadi bunga. Terlanjur. Bahkan kadang meninggalkan penyesalan.


Penyesalan karena t’lah salah memilih hati sebagai sandaran. Padahal aku tahu hati itu sangat asing kuselami. Atau aku yang terlalu mudah menebar rasa. Entahlah. Dan sayangnya, sekarang semuanya tinggal angan-angan.
Semua perasaan itu runtuh karena duri yang kutebar sendiri. Runtuh hingga menimpa hatiku yang masih hangat terluka. Sakit. Meskipun tak ada sepatah kata pun yang mampu kuungkapkan. Tak ada. Hanya senyuman yang bisa kubalas. Diriku terlalu lelah untuk sekedar marah. Lelah untuk sekedar protes. Atas segala ketidakadilan ini.

Kini, yang membuncah tinggal rindu. Hanya sekedar rindu. Rindu akan segala canda tawa yang pernah menghiasi. Rindu akan senyuman malu yang dulu sering tergelar. Karena sekarang aku cukup malu untuk menatap mata hangat tersebut. Bukan karena aku tak mau. Tapi mata itu serasa tak lagi untukku. Meskipun aku merindukannya. Sangat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gel Wash Hydra Oriflame Favoritku

Bromance ala The Tale of Gumiho

Perjalanan Skincare-ku