Sayap Lemah Sepak Bola
Sepak bola. Adalah olahraga yang dulu sangat aku gandrungi, dimana hampir
setiap hari kuikuti perkembangannya. Kala itu ajang sepak bola di dalam negeri
masih bernama Liga Indonesia. Seiring dengan bertambahnya usia, aku jadi semakin
jarang menonton sepak bola. Ditambah lagi dengan dualisme yang sempat membebani
PSSI dan membuat perhelatan sepak bola di dalam negeri juga ikut terpecah
belah. Buatku kala itu benar-benar miris. Mungkin sepak bola masih berjalan di
negeri ini, tapi ia hanya terbang rendah karena tak mampu mengepakkan sayapnya
lebih lebar.
Saat memasuki bangku kuliah,
ketertarikan akan sepak bola kembali menggodaku yang tidak lagi sibuk dengan
aktivitas padat. Ya, aku kembali mengikutinya, meskipun tidak seintensif dulu.
Hanya kabar-kabar burung yang hinggap di telinga. Saat Irfan Bachdim jadi idola
sepak bola yang baru, saat U-19 mengalahkan Korea Selatan dan menjadi sangat
dipuja oleh masyarakat Indonesia. Kabar itu ibarat kembang api yang meledak di
awal dan kemudian menghilang begitu saja, meskipun meninggalkan beberapa titik
api.
Aku mulai sedikit terusik ketika
sepak bola di Indonesia mendapat hukuman dari FIFA untuk tidak terlibat dalam
kompetisi apapun di bawah naungan FIFA. Alhasil, Liga Super Indonesia yang
merupakan kancah tertinggi kompetisi sepak bola di Indonesia juga ikut
terhenti. Para pemain tak memiliki pertandingan yang berdampak pada membekunya
aliran gaji mereka. Pemerintah pun berusaha mengatasi masalah tersebut dengan
mengadakan turnamen-turnamen yang dapat diikuti oleh para klub sepak bola.
Harapannya, klub-klub tersebut tetap dapat berjalan. Ya, bisa kalian bayangkan
bagaimana atmosfer yang terjadi? Tak menarik sama sekali.
Tak berhenti sampai di situ.
Setelah hukuman dari FIFA berakhir, Timnas Indonesia kembali mengikuti
kejuaraan tingkat Internasional, AFF Cup. Persiapan minim, pemain baru, dan
segudang hambatan mengiringi jalan Timnas kala itu. Maka sungguh hal yang
sangat mengesankan ketika mereka berhasil menembus babak final. Memberikan harapan
pada jutaan penggemar sepak bola di Indonesia, termasuk penulis. Bahkan pada
leg pertama yang di gelar di Indonesia, Timnas berhasil menundukkan musuhnya,
Thailand, dengan skor 2-1. Sayangnya, kenyataannya tak semudah bayangan para
penggemar. Timnas Indonesia harus merelakan gelar juara untuk Thailand karena
kalah 2-0 pada leg kedua final AFF Cup. Tak ada perayaan, hanya apresiasi luar
biasa yang dapat warga Indonesia berikan.
Kejadian-kejadian itulah yang
membuatku terinspirasi untuk menulis sajak kaku ini. Aku mulai menyadari bahwa
permasalahan utama yang dimiliki Indonesia adalah sistem yang kurang pas, masih
belum maksimal, dan terkesan main-main. Ditambah lagi manajemen pemain di
tingkat Timnas yang menurutku terlalu instan. Para pemain yang saat ini ada di
Timnas adalah pemain-pemain baru dari seluruh penjuru negeri. Ya, memang itu
bagus karena memberikan kesempatan bagi mereka untuk membela negara. Tapi apakah dari tingkat
daerah mereka telah memiliki pembinaan yang baik. Apakah mereka memiliki mental
seorang pesebakbola yang harus membawa lambang garuda di dadanya.
Kalau memang PSSI ingin memunculkan bibit-bibit baru yang lebih segar,
kenapa harus mengganti bibit-bibit itu jika kegagalan yang terus didapat. Jika
demikian kapan komposisi Timnas dapat sangat apik, seperti ketika Bambang
Pamungkas, Eilie Eboy, dan pemain-pemain seangkatan mereka menduduki Timnas.
Kenapa mereka tidak memupuk bibit-bibit yang potensial untuk nantinya dijadikan
pemain profesional. Pemain yang memiliki skill mumpuni, mental jawara, dan
diharapkan mampu memberikan senyuman pada kami, para penggemar.
Entahlah, itu semua adalah tugas
dari PSSI sebagai payung sepak bola di Indonesia. Hanya segelintir pendapat
yang dapat aku sampaikan sebagai seorang penikmat sepak bola, tak lebih. Di
luar itu semua, aku sangat berharap Indonesia mampu menjadi negara dengan sepak
bola yang lebih baik. Karena semua itu tidak dapat diraih dengan kerja seorang
saja karena diperlukan kontribusi dari semua pihak. Alangkah baiknya jika kita
juga mulai memperbaiki diri dengan menjadi suporter yang baik, terus mendukung
tanpa menghakimi. Keep fighting sepak bola Indonesia!

Komentar
Posting Komentar