Dapur Sandal

#Day1. Sesederhana menemukan daun yang jatuh di musim gugur, sebuah peluang bisnis di jaman yang serba canggih ini pun semakin mudah ditemukan. Kita bisa membangun usaha dari hal sekecil apapun, bahkan dari bagian yang paling bawah dari diri kita, sandal.
“Dapur Sandal” namanya. Bertempat di pojok kota Ngawi, tepatnya sebuah desa kecil berjuluk Sidowayah. Pernah mendengar daerah tersebut? Barangkali tidak, meskipun daerah tersebut merupakan jalur utama yang menghubungkan Surabaya dan Yogyakarta. Aku mengenalnya melalui guru SMK, khususnya ibu-ibu, yang sudah berulang kali memesan sandal di tempat tersebut.

Apa yang membuat ibu-ibu tersebut kesemsem dengan sandal di “Dapur Sandal”? Ternyata, bukan hanya harganya yang miring, kualitasnya yang baik, tapi lebih karena keunikannya. Unik karena kita bisa memesan sandal yang dihiasi dengan nama kita sendiri. Untuk guru-guru yang sudah mempunyai anak, khususnya anak kecil, sandal seperti ini sangat diperlukan menjelang bulan Ramadhan seperti kemarin. Yaa, demi keamanan sandal saat si kecil sedang sholat tarawih tentunya. Alhasil, pesanan sandal ini bisa mencapai 20-30 pesanan sampai sekarang. Itu pun hanya berasal dari guru SMK saja, belum yang lainnya.


Sempat mendatangi langsung rumah produksi “Dapur Sandal” membuatku menemukan hal baru. Di sana, secara langsung aku melihat bahan-bahan mentah yang nantinya akan disulap oleh sepasang suami istri, si empunya usaha, menjadi sandal unik. Melihat alat-alat yang mereka gunakan untuk berperang, super sekali. Tanpa perlu banyak berkata aku tahu bagaimana gigihnya mereka mengelola usaha sandal tersebut. Tumpukan pesanan pun membuatku ikut bahagia karena menyadari bahwa usaha mereka sangat maju. Meskipun sederhana.

Kawan, perjuangan suami istri tersebut patut diacungi jempol. Dari sana aku belajar banyak hal. Tentang arti ketekunan, kesederhanaan, perjuangan, dan tekad yang pantang menyerah. Aku yang saat ini sedang merintis usaha kecil-kecilan kembali termotivasi untuk terus maju dan berkembang. Sempat terpuruk karena usaha tidak mengalami kemajuan seharusnya tak membuatku menjadi patah semangat. Keterpurukan itu seharusnya menjadi batu loncatan untukku terus maju dan menghadapi segala aral yang menanti di depan. Seperti kata orang bijak, “jika kita terjatuh satu kali, pastikan kita bangkit sebanyak dua kali. Jika kita terjatuh dua kali, pastikan kita bangkit sebanyak tiga kali. Begitu seterusnya... Maka, semakin dalam kita terpuruk, semakin kokohlah akar kekuatan kita.” Bukankah lebih mudah untuk terus berdiri tegak kembali saat kita terjatuh, bukan merintih dan menikmati luka?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gel Wash Hydra Oriflame Favoritku

Bromance ala The Tale of Gumiho

Perjalanan Skincare-ku