Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2017

Perpisahan: Gugurnya Kenyamanan

Gambar
Ibarat bunga yang gugur, perpisahan adalah suatu hal yang sangat menyedihkan. Sesuatu yang semula sangat indah dirasa, pandang, dan mesra, tiba-tiba menghilang diterpa angin kehidupan. Terkadang hilang tanpa jejak, terkadang pula perlahan lenyap hingga mengiris hati. Tak mudah bunga itu mekar, begitu pula kebersamaan kita dengan seseorang. Sebuah kenyamanan tak bisa didapat dari selayang pandang atau sepatah kata belaka. Tapi ia adalah hasil dari pemahaman tanpa henti akan seseorang. Pemahaman tanpa menghakimi antara sahabat, pasangan, ataupun keluarga. Tumbuh seiring berjalannya waktu. Semakin lama semakin mekar, bukan semakin layu. Terkadang, kita terlalu nyaman dengan seseorang, sesuatu, hingga kita melupakan bahwa suatu hari nanti pasti perpisahan akan terjadi. Kita lupa, hingga terus menyirami bunga tersebut tanpa menyadari bahwa secantik apapun mereka pasti akan layu. Pada akhirnya, ketika perpisahan terjadi rasa tak ikhlas pun sering menghantui. Tak menerima dengan keny...

Dua Sisi Nasehat

Nasehat. Adalah ujian bagi sang pemberi nasehat, dan pelita bagi yang diberi nasehat. Senang rasanya jika ada yang masih bersedia memberi nasehat pada kita. Mengingatkan ketika salah, menuntun ketika tersesat. Itu adalah anugerah terindah bagi kita, karena masih ada yang bersedia menasehati. Namun, tak jarang sebagian kita risih kala diberi nasehat. Risih karena menganggap orang lain terlalu mencampuri urusan kita. Merasa bahwa orang lain tak merasakan apa yang dirasa, dan heran ketika nasehat tersebut lancar terucap dari bibir mereka. Tak sepenuhnya salah, karena memang menerima nasehat dari orang lain terkadang sangat berat. Menerima nasehat orang lain artinya kita harus menghilangkan segala ego akan pendapat diri. Ikhlas menerima pendapat orang lain. Dan kemudian merenungi apa yang seharusnya di ambil, untuk dijadikan keputusan. Ya. Nasehat dari orang lain adalah sebuah pintu yang dibuka atas diri orang lain. Agar kita bersedia menatap sesuatu yang baru. Pendapat baru. Pendapat ...

Yang Terbakar

Gambar
Perasaan ini bergejolak. Layaknya api yang membara ketika menghangat. Butiran-butiran hangat menyelimuti dinginnya hati. Menjanjikan kebahagiaan yang telah lama dirindu. Bergejolak dalam irama tak senada yang harmonis. Semakin lama perasaan itu semakin menyelimuti, hingga memenuhi cawan hati yang lemah ini. Bodohnya, saat api mulai membakar hati dan menggerogoti kesadaran. Ia terlalu panas, terlalu cepat hingga tak ada ruang untuk bernafas. Datang bagaikan meteor yang jatuh dari langit, dan mendarat tepat pada wadahnya. Terlalu cepat. Atau bahkan terlalu memaksa. Sering kali hati tak mampu menahannya. Membakar terlalu dalam sehingga sesak yang terasa. Membakar terlalu lama hingga bukan kehangatan batin yang didapat. Terlalu lama sampai kehitaman mulai terlihat, sedikit demi sedikit. Makin lama makin jelas terasa. Tak ada yang salah memang. Ia hanya cerita yang sejatinya akan datang dan pergi dalam kehidupan hati yang rumit. Dengan perlahan, api itu akan melemah. Waktu yang...

Sadar Tak Sadar

Gambar
Serasa terbangun Mimpi indah yang terlalu melenakan Kepura-puraan akan kenyataan Memotong mimpi indah Tapi aku masih memejamkan mata Enggan menghadapi kenyataan tersebut Bukan takut, hanya enggan Pura-pura tak mendengar Segala hiruk pikuk dunia fana Pura-pura tak merasa Segala kepahitan dan kebahagiaan menanti Begitu... Dan aku pura-pura tak menyadarinya Hingga waktu telah menyapa Saat lelah akan kepura-puraan mimpi Lelah memejam mata dalam kenyataan Waktu tiba dengan memekik hati Sadarlah.. Bangunkan singa dalam tubuh Membuka mata tak selamanya pahit Ada manis asin pahit yang sejati Sejati terus ada menghantui Tanpa peduli serapuh apa hati Tanpa peduli sesakit apa rasa Datang tanpa menyapa Layaknya kehidupan sesungguhnya

Namaku Angin

Gambar
Pernah merasa tak dianggap meskipun kehadiranmu ada? Menjadi malapetaka ketika mencoba hadir dihadapan orang lain? Pernahkah? Atau hanya aku yang merasakannya? Aku. Selayaknya selalu hadir diantara mereka. Tak pernah absen sedikitpun. Aku tegar. Meksipun mereka, atau kalian, tak pernah menganggapku ada. Padahal, akulah sang penyejuk hari mu yang panas. Akulah yang sering engkau cari ketika peluh keringat atau rasa panas mendadak menghantui tubuhmu yang nyaman. Hebat. Karena sedikitpun kalian tak pernah menyadari kehadiranku di saat kalian merasa tak membutuhkanku. Tak pernah lelah. Sedikitpun. Aku selalu berusaha menemani harimu. Tanpa mengharap penghargaan atau sekedar ucapan terima kasih yang dahsyat. Tenanglah. Kalian akan tetap bertemu denganku sepanjang waktu. Sekalipun tidak pernah mengakuinya. Lucunya, kala diriku menampakkan wujud di hadapan kalian, justru rasa takut yang aku terima. Hei, aku hanya menunjukkan diriku yang lain. Kenapa harus takut. Apakah karena aku tanp...

Sepucuk Surat Tetapi

Gambar
Meninggalkanmu, adalah keputusan paling berat dalam hidup. Karena itu berarti harus merobek separuh hatiku dan mengembalikannya padamu. Merobek sesuatu yang telah dengan sangat erat dirajut. Menyakitkan. Padahal, semula kupikir meninggalkanmu adalah hal yang mustahil. Meninggalkanmu tak pernah terpikirkan sedetikpun dalam angan. Bahkan, seiring berjalannya waktu selalu berusaha mendekatkan hati. Akan sangat tidak manusiawi jika kata 'tetapi' selalu menjadi ujung dari sebuah kata-kata yang indah. Kata yang akan selalu memutar balikkan perkataan indah tersebut. Menampik kenyataan menyakitkan sebagai pembelaan. Dan kini terpaksa harus kuuraikan dalam sepucuk rangkaian salam perpisahan. Sebagai bagian dalam hidup yang penuh warna ini, aku sangat menghormatimu. Tak berkurang sedikit pun, semenjak mata kita bertemu. Semenjak cerita itu dimulai. Meskipun memori tak lagi mengingatnya. Entah 9 atau 10 tahun yang lalu. Rasa hormat ini masih terjaga. Karena bagaimanapun juga hanya e...

Setetes Air Benci

Gambar
Hujan masa lalu meninggalkan luka Setetes air benci yang bergelora Sepercik amarah berbaut cinta Menyibak masa lalu penuh kegelisahan Berjajar layaknya hujan sore penuh keluh Air benci berwarna abu-abu Gelak tawa berujung sendu Bahkan nyanyian cemburu saut menyaut Mengikis pilunya sukma nan rapuh Hempaskan bahagia yang tak berarti Hujan masa lalu berganti pelangi Membentang seiring masa depan penuh misteri Tetesan air benci yang kelam dan letih Perlahan memudar membentuk pelangi Berujung kotak harta yang hakiki Bersama bidadari pujaan hati yang hampa Fatamorgana dunia kadang membayang Canda dan bahkan tawa palsu belaka Masa depan seiring jalan yang terjal Masa kini bernama kenyataan Pasti nan mantap layak diperjuangkan Burung camar menerjang kelambunya Sayap nan cetar membelah air benci perlahan Tak serta menghapusnya Namun mantap teteskan bahagia Berujung pada cerita air bernama kehidupan