Movie: Moodbooster
#Day8. Berbicara mengenai moodbooster, salah satu pembakar semangat yang paling ampuh bagiku adalah film. Yaa, dengan menonton film favorit sepertinya semua masalah terlupakan, semangat yang sempat hilang pun kembali membara. Ada beberapa film yang berhasil menetap di hatiku, tak lekang oleh waktu, dan yang jelas tidak pernah bosan ditonton ribuan kali. Apa saja?
#1 Laskar Pelangi. Pasti tidak asing lagi dong dengan film satu
ini. Film yang menceritakan perjuangan sekelompok anak dari tanah Belitung yang
penuh Iika-liku ini memang sangat populer, bahkan berhasil menyabet sederet
penghargaan. Tak tanggung-tanggung, penghargaan yang diperoleh berasal dari
dalam dan luar negeri. Menurutku penghargaan itu sangat setimpal dengan
kualitas film yang T.O.P.B.G.T.
Awalnya,
aku membaca novel laskar pelangi terlebih dahulu sebelum menonton film-nya.
Baru baca novelnya saja, hati ini rasanya sudah trenyuh dan tak terasa buliran
hangat pun bergulir di ujung mata. Wah, ceritanya, alurnya, bahkan karakter
tiap tokohnya benar-benar berkesan bagiku. Padahal, aku bukan orang yang
mudah meneteskan air mata karena buku atau pun film. Kebayang dong bagaimana
perasaanku saat membaca novel itu sampai-sampai aku terharu.
Saat
menonton filmnya, aku benar-benar menangis. Aku membayangkan bagaimana perjuangan
para laskar pelangi untuk menempuh pendidikan. Yang paling berkesan adalah tokoh Lintang yang cerdas, namun terpaksa harus putus sekolah karena
kematian ayahnya. Sangat disayangkan. Jika memperoleh pendidikan yang layak,
bisa saja seorang Lintang menjadi B.J.Habibie selanjutnya yang mampu membanggakan
bangsa Indonesia. Hal ini juga membuka pandanganku tentang pendidikan di
Indonesia. Banyak Lintang-lintang lain yang mungkin saja tidak pernah terjamah.
Sebagai seorang calon guru, mungkin hal-hal seperti ini menjadi perhatian
khusus yang perlu diperbaiki. Apa itu? Kesamaan memperoleh pendidikan bagi
setiap anak di Indonesia.
#2 Toy Story 3. Emm. Awalnya aku tidak melihat ada hal yang
spesial dari film ini. Bagus, jalan cerita yang dibangun juga apik. Si Woody
dan teman-temannya yang akan segera ditinggal Andy kuliah mulai merasa gelisah.
Mereka pun berpetualang dari taman kanak-kanak hingga ke tempat pembuangan
sampah akhir. Ya, awalnya tidak berkesan, namun semakin menonton film ini
menjelang akhir, berbagai gambaran membuatku senang. Ini film memang bagus.
Bagaimana ia menggambarkan perasaan mainan ketika si empunya sudah besar.
Terbuang? Terabaikan? Atau yang lainnya?
Puncaknya,
ketika Andy mengetahui ada gadis kecil yang juga suka bermain dengan mainan
kecil seperti dirinya, ia memutuskan untuk memberikan mainannya
pada gadis kecil itu. Kecuali si Woody, mainan kesayangannya. Sampai di sini aku
sudah terharu karena Andy rela membawa Woody ke tempat kuliah. Tapi ternyata, si
Woody tidak ingin meninggalkan mainan yang lain dan memutuskan untuk ikut ke
dalam mobil saat Andy ingin memberikan mainan pada si gadis kecil.
Dan
drama pun dimulai. Andy satu persatu memperkenalkan mainannya dengan penuh
kasih sayang ketika akan menyerahkan mereka pada si gadis kecil. Ya, penuh kasih sayang. Bisa kalian bayangkan, hal semacam ini mampu membuat mataku
berkaca-kaca. Ketika tiba-tiba Woody muncul dan Andy melihatnya. Ia awalnya
tidak ingin memberikan Woody pada si gadis kecil, namun tak diduga si gadis
kecil justru meminta Woody dan mengatakan itu adalah koboinya. Andy bingung
sejenak, dan akhirnya ia mengucapkan kata-kata yang membuatku benar-benar
menangis. (Aku tidak mau menuliskannya). Ahhh.. Andy, sayang kau harus berpisah
dari mereka. Bagimu mereka adalah sahabat terbaik. Bahkan ketika kau
melambaikan tanganmu pada mereka untuk mengucapkan selamat tinggal, aku masih
setengah menangis. Drama yang luar biasa buatku.
Yang
lebih aneh, cerita seperti ini justru tidak dianggap menyedihkan bagi orang
lain. Tapi buatku, entah mengapa film anak justru lebih berkesan. Terutama
kartun anak. Doraemon, dkk justru dapat membuatku menitikkan air mata. Bahkan
drama Korea yang super baper pun tidak mampu membuatku menangis. Tapi film
anak-anak itu, mereka melakukannya dengan luar biasa. Melalui film Toy Story 3,
aku menyadari bahwa perasaan sensitif ini akan muncul ketika berhubungan dengan
anak, apapun itu.
#3 IP Man Series. Berganti genre. Film ini mengisahkan
perjuangan legendaris Kung Fu Jepang, bernama Ip man. Ia adalah orang yang
menyebarluaskan ajaran kung fu Wing Chun. Sejujurnya aku tidak begitu tertarik
dengan kung fu dan sejenisnya. Tapi aku suka dengan cerita tentang tokoh utama
yang awalnya diremehkan, tapi pada akhirnya mampu membuktikan bahwa orang lain salah
dan menjadi lebih hebat. Cerita dari Ip man series ini hampir semuanya ber-alur
seperti itu. Dan entah mengapa aku tidak bosan menontonnya. Aku menikmati
saat-saat ketika tokoh utama membuktikan bahwa mereka adalah orang hebat di
depan orang yang meremehkannya. Hahaha. (Tertawa bahagia).
Dannn...
Yang paling berkesan buatku adalah karakter dari tokoh Ip man itu sendiri. Ia
adalah orang yang jujur, baik, penyabar, penolong, pemaaf, tanggung jawab, dan
sifat-sifat baik lainnya. Aku tahu tidak ada manusia yang sempurna, tapi di
film tersebut Ip man digambarkan sebagai seorang suami idaman bagiku. Aku
menyukai bagaimana ia menempatkan diri di masyarakat, di tempatnya bekerja, dan
terutama di rumah sebagai seorang suami dan ayah. Sejak saat itu pun aku
mengidolakan film ini.
Begitulah beberapa film yang menjadi favoritku. Film yang menjadi penyemangat saat raga ini mulai lelah dan pikiran pun tak mampu diajak berkompromi. Sesederhana menonton film, dan semangat pun mulai terbakar kembali untuk melakukan berbagai aktivitas.

Komentar
Posting Komentar