Menyelami Kehilangan

#Day7. Dalam hidup ini terkadang kita terpaksa merasakan yang namanya kehilangan. Baik kehilangan barang, seseorang, atau kesempatan yang menurut kita berharga. Kehilangan dalam kadar yang kecil maupun kehilangan dalam kadar yang besar. Kita tak bisa menghindarinya, karena kehilangan adalah pukulan keras yang mengajarkan kita untuk lebih ‘paham’ arti kehidupan.
Saat merasakan yang namanya kehilangan, pasti semua orang pada awalnya merasa seakan dunia akan runtuh. Bayangkan jika kita kehilangan barang seperti motor, mobil, atau lainnya. Tidak perlu mendeskripsikannya, toh semua orang tahu bagaimana kecewa, marah, dan sedihnya saat itu. Apalagi kehilangan seseorang. Yang biasanya menemani kita, yang kita sayangi, orang tua ataupun sahabat. Kehilangan karena kehendak yang di atas, atau bahkan kehilangan karena seseorang itu tak lagi ingin menemani kita. Bagaimanapun perbedaan ukuran kehilangannya, pada dasarnya itu tetap kehilangan.



Dampaknya bagi kita saat merasa kehilangan, sedih yang berlarut-larut, galau, atau bahkan hampir gila karenanya. Seperti itu? Yaa, begitulah saat seseorang tidak dapat menerima kehilangan yang terjadi. Jangan heran, karena banyak yang terpuruk di titik ini. Banyak yang sedih berkelanjutan hingga terpuruk, tak mampu bangkit dan berujung di rumah sakit ‘khusus’.
Lalu? Solusinya apa dong? Sederhana saja, kita cukup menerapkan rumus lama yang sering kita dengar, ikhlas. Sesederhana itu. Sedih, kecewa atau apapun rasanya, wajar jika kita merasakannya setelah kehilangan. Tapi tidak perlu lama-lama, cukup sampai kita merasa lega telah meluapkan perasaan tersebut. Selanjutnya, mari kita terapkan ikhlas yang super dahsyat ini.
Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah merasa bersyukur karena kita sempat memiliki ‘sesuatu’ yang telah hilang tersebut. Syukuri saja. Kemudian pahami apa sisi positif yang dapat diambil ketika ‘sesuatu’ itu masih ada di genggaman kita dan ketika telah lenyap dari genggaman. Terus syukuri, ambil positif, dan pada akhirnya rasakan kerelaan hati masing-masing untuk menerima kehilangan itu. Saat itulah tanpa sadar kita telah berhasil menerapkan ikhlas yang sesungguhnya. Tak perlu mengumbarnya lewat kata-kata, berkata “aku ikhlas kok”, mengungkit-ungkitnya kembali. Karena ikhlas adalah apa yang tidak perlu diucapkan dan diingat kembali.
Tahukah kalian apa yang lebih indah lagi selain kita ikhlas menerima kehilangan tersebut? Merasakan kedamaian hati karenanya? Saat kita ikhlas, bahagia, dan tidak mengharapkan ‘sesuatu’ itu kembali lagi. Yang di atas pasti dan akan selalu memberikan kita yang terbaik sebagai buah dari keikhlasan tersebut. Lebih indah lagi karena kita tidak pernah tahu lewat jalan yang mana Dia memberikannya. Mengembalikan apa yang telah hilang tersebut ke dekapan kita, atau bahkan menggantinya dengan hal yang lebih baik, lebih bermanfaat.

Yaa, tidak ada yang lebih indah dari mendapatkan apa yang memang seharusnya menjadi milik kita bukan. Lalu kenapa kita enggan untuk ikhlas saat kehilangan? Tidak ada rasa yang bertahan selamanya. Apalagi yang menjadi milik kita bukan milik kita seutuhnya. Hadapi saja kehilangan itu dengan wajah tegap, dan bersiap-siap menerima kejutan yang lebih indah dari yang di atas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gel Wash Hydra Oriflame Favoritku

Bromance ala The Tale of Gumiho

Perjalanan Skincare-ku