Asam Manis KPL (1)

Sebagai seorang mahasiswa, atau lebih tepatnya mantan mahasiswa, terjun ke masyarakat secara langsung merupakan sebuah kewajiban yang tidak bisa kuhindari. Salah satunya adalah mengikuti KPL (Kajian Praktek Lapangan), atau yang lebih dikenal dengan PPL, mengajar di sekolah asli. Memang, sebagai seorang mahasiswa jurusan pendidikan, kegiatan ini menjadi salah satu agenda besar sebelum kami lulus dan siap mengajar di sekolah.
Jika tidak salah, pengalaman tersebut terjadi sekitar dua tahun yang lalu. Tinggal sebagai seorang mahasiswa perantauan di kota besar, seperti Malang, membuat kebanyakan dari kami berharap memperoleh sekolah tujuan KPL yang dekat. Makin dekat makin baik. Begitu rumusnya. Berbagai usaha sudah kulakukan agar bisa mendapat sekolah yang dekat dengan kos-kosan. Begadang sampai malam untuk berebut kuota. Browsing sana sini untuk memperoleh sekolah yang tepat. Tapi nyatanya takdir berkata lain. Kenyataannya aku harus keluar dari persaingan tersebut dan terpaksa melaksanakan KPL di Pasuruan. Tak ada jalan lain.


Alhasil, perjalanan yang ditempuh kurang lebih selama 2,5 jam membuatku terpaksa mencari kos-kosan baru di Pasuruan. Pada awalnya berjalan mulus, kos yang didapat sangat dekat dengan lokasi sekolah. Meskipun resikonya kosan tersebut sangat jauh dengan warung makan. Tak masalah.
Aku masih ingat, bahkan sangat melekat di memori. Tepatnya baru dua malam aku dan kedua temanku tinggal di kosan baru tersebut. Malam itu, pemilik kosan memanggil kami. Mengajak kami berbicara serius di rumah sebelah. Dan kata-kata yang muncul setelahnya membuat jantung kami mencelos. ‘Tidak bisa lagi tinggal di rumah tersebut, karena pemilik kamar yang asli akan kembali’. Setengah tak percaya dengan pernyataan yang didengar. Tapi apa boleh buat, kenyataannya memang seperti itu. Dan sebuah pertanyaan besar muncul, apa salah kami??

Entahlah, memikirkan penyebab insiden ‘diusir’ tersebut hanya melelahkan batin. Masalahnya, sesegera mungkin kami harus mencari kos baru sebelum pembelajaran di sekolah dimulai. Berkeliling desa dari ujung hingga ujung sudah dilakukan. Bertanya sana sini, melakukan negosiasi dari A sampai Z. Tapi hasilnya nihil. Tak ada yang mau menerima kami sebagai anak kos.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gel Wash Hydra Oriflame Favoritku

Bromance ala The Tale of Gumiho

Perjalanan Skincare-ku