Celotehan 22 Desember

Memasuki bulan Desember, banyak sekali perayaan terutama di akhir bulan. Tak perlu disebut lagi apa saja perayaan itu. Kali ini kita akan membahas satu perayaan yang sedikit bersifat emosional. Hari Ibu. Tepatnya 22 Desember, bagi yang merayakan. Fenomena medsos yang kini sedang marak di kalangan pengguna internet rupanya juga menimbulkan berbagai reaksi mengenai Hari Ibu tersebut. Banyak yang mengunggah status untuk ibunya, foto dengan ibunya disertai ucapan selamat, atau meme-meme yang berbeda-beda.

Menyikapi hal tersebut, lucunya beberapa orang justru menyatakan bahwa unggahan tersebut hanya pencitraan saja. Banyak yang mengucapkan selamat Hari Ibu, tapi perlu diperintah berkali-kali hanya untuk melaksanakan satu perintah saja (penulis juga masih seperti itu, kamu?). Tak perlu menyalahkan orang lain. Koreksi diri kita masing-masing saja ya. Tapi memang kenyataannya seperti itu. Berdasarkan pengamatan penulis yang hidup di dunia selama 22 tahun, hanya segelintir orang saja yang benar-benar taat kepada orang tuanya. Dan berdasarkan fakta, mereka yang taat kepada orang tuanya justru tak begitu memperdulikan yang namanya Hari Ibu, karena bagi mereka tiap waktu dan tiap hari adalah Hari Ibu.

Eitss, tapi di sini kita juga tak bisa menyalahkan atau men-judge orang-orang yang tebar ucapan selamat di medsos lho. Mungkin saja, begitulah cara mereka menunjukkan cintanya pada sang Ibu. Berharap dengan kepedulian mereka akan hari Ibu dapat menambah ketaatan mereka pada Beliau. Mereka jadi lebih patuh, tidak berkata kasar, dan lebih peduli pada Ibu mereka setelah mereka menyadari bagaimana perjuangan seorang Ibu dalam membesarkan anaknya.

Ya. Perjuangan seorang ibu memang tak main-main. Kita sudah tak perlu berselisih paham mengenai hal ini, toh semua orang sudah tau. Tapi buat para wanita, sudahkah kita mempersiapkan diri untuk menjadi seorang ibu. (Berpikir keras, apa perlu mempersiapkan sejak dini, kan masih belum jadi ibu). Jangan salah, persiapan menjadi seorang ibu dapat kita mulai semenjak dini lho. Terutama belajar untuk mengurus diri sendiri. Kalau mengurus diri sendiri saja belum bisa, bagaimana kita akan mengurus orang lain, apalagi  mendidiknya.

Tanggung jawab menjadi seorang ibu tidaklah mudah. Ibu adalah pendidikan pertama bagi seorang anak. Mayoritas, masa depan anak-anak bergantung pada bagaimana mereka dibesarkan oleh keluarganya. Baru kemudian lingkungan akan memantapkan dan menentukan akan jadi seperti apa anak tersebut. Kalau sudah seperti itu bukankah seharusnya kita belajar menjadi seorang ibu terlebih dahulu sebelum menjadi ibu sungguhan. Misalnya dengan membiasakan diri melakukan hal-hal baik, karena orang tua adalah teladan bagi anaknya. Agar kelak lingkungan yang terbentuk di keluarga dapat membangun karakter yang baik bagi anak.

Di luar itu semua, ada fakta menarik yang dapat kita amati. Apa yang dianggap benar bagi orang tua kadangkala bukanlah hal yang tentu benar. Meskipun orang tua selalu benar karena menginginkan hal yang terbaik bagi anaknya, hal tersebut terkadang tidak dianggap benar oleh anaknya. Alhamdulillah kalau pada akhirnya si anak sadar akan hal tersebut, tapi bagaimana jika tidak. Mereka justru memberontak, tak mau mengikuti perintah orang tuanya, dan akhirnya jatuh pada keburukan. Banyak lho contohnya, tak perlu disebutkan. Karena itulah, meskipun apa yang dipikirkan orang tua selalu benar, orang tua harus mampu membaca situasi pada anaknya. Maksudnya? Setiap anak memiliki karakter yang berbeda, perlakuan dan cara pendekatan yang harus dilakukan pun juga berbeda. Bagi orang tua, ini adalah tantangan terbesar yang perlu dihadapi. Orang tua ingin anaknya rajin salat, maka terkadang memaksa mereka dengan sedikit kasar. Tapi apakah cara ini cocok diterapkan pada semua anak? Jawabannya tidak, dan ini perlu kacamata orang tua yang lebih tajam untuk mengetahuinya.


Kembali pada Hari Ibu. Karena kita belum waktunya menjadi ibu. Mari kita fokus belajar untuk menjadi seorang anak yang baik. Sama halnya dengan di atas, perlu kacamata seorang anak yang lebih tajam untuk dapat mengetahui apa yang dapat kita lakukan untuk ibu kita. Karena setiap ibu berbeda, dan hanya kita anaknya yang tahu kebahagiaan dan harapan terbesar sang Ibu kepada kita. So, let’s change our habit to Mother, more respect, more love, and more pray for her.
x

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gel Wash Hydra Oriflame Favoritku

Bromance ala The Tale of Gumiho

Perjalanan Skincare-ku