Pendidikan dan Batu Sungai
Bukan hal
mudah mengajar siswa SMK yang terlanjur di cap sebagai anak nakal. Tidak semua
anak SMK nakal, terutama yang sekolahnya berlokasi di kota. Tapi di antara jutaan
mutiara itu pasti ada batu sungai yang ikut di dalamnya. Dan mereka-mereka lah
yang setiap hari harus aku temui.
Berada di
tempat yang belum bisa dibilang kota, memiliki fasilitas terbatas, namun dengan
jumlah siswa yang cukup banyak membuat pihak sekolah harus bekerja keras untuk
tetap menjaga mutu. Sayangnya, karena dipenuhi oleh siswa laki-laki, kenakalan
yang menyertai mereka pun sudah masuk kategori parah. Bolos pelajaran, dengan
berbagai alasan, merokok, bahkan sampai bermain kartu di dalam sekolah adalah
hal yang pernah kutemui.
Jika
diteliti lebih dalam, kenakalan tersebut bukan hanya terbentuk karena
lingkungan pergaulan di sekolah, namun sudah dibawa semenjak dari rumah.
Kurangnya perhatian orang tua menjadi faktor terbesar yang menyebabkan
anak-anak tersebut mencari perhatian dari luar. Sayangnya dengan cara yang
salah, yaitu menjadi nakal.
Tidak
bisa dipungkiri bahwa kenakalan mereka menjadikan satu dua guru geram dan
bersikap lebih tegas kepada mereka. Ya, itu wajar, dan memang seharusnya
seperti itu agar mereka jera. Namun tak jarang hal tersebut sama sekali tidak
memberi efek kepada mereka. Bukankah memang itu yang mereka inginkan,
memperoleh perhatian. Meskipun pedih, tapi begitulah kenyataan yang ada.
Maka jalan
satu-satunya untuk menyeimbangkan hal tersebut adalah dengan cara memberi
perhatian yang sesungguhnya kepada mereka. Layaknya perhatian yang diberikan
orang tua kepada anaknya. Perhatian yang diberikan kakak kepada adiknya. Hal
ini lah yang sering dilupakan di dalam dunia pendidikan kita. Sudah ada satu dua
sekolah yang menerapkan hal tersebut, tapi masih banyak yang lalai.
Kesadaran
akan kasih sayang di dunia pendidikan seharusnya sudah ada semenjak anak-anak
memperoleh pendidikan di rumah. Setidaknya ketika mulai mengenal sekolah mereka
sudah menerima kasih sayang yang tidak hanya memanjakan tapi juga memandirikan.
Maka, sebagai orang tua, atau calon orang tua, sudah sewajarnya kita belajar
menjadi orang yang lebih baik. Agar kita mampu memberikan pendidikan yang layak
bagi generasi muda. Demi masa depan mereka.
Komentar
Posting Komentar