Mengenal Cinta



#Day10Pertemuan pertama kami sekitar satu dua tahun yang lalu. Awalnya tak berkesan. Tapi memang semenjak pertemuan pertama perasaan itu mulai muncul. Malu. Sampai pada akhirnya sama sekali tak ada ucapan tentangnya yang biasanya aku curhatkan pada sahabat-sahabat. Hanya lembaran kertas putih yang setia menjadi tong sampah. Entah sudah berapa tulisan yang terinspirasi darinya, meskipun belum ada satu pun yang bisa mengobati perasaan ini.
Bertemu dengannya, pada sebuah kegiatan kampus yang berjalan cukup lama, satu setengah bulan, dan memaksaku harus melihat wajahnya setiap hari. Semakin mengenalnya, perasaan ini bukannya hilang justru semakin menjadi. Begitulah. Dan mungkin aku jatuh ke jurang merah jambu karena tatapan itu.
Mungkin, pertemuan pertama itu adalah titik balik dalam hidupku. Karenanya, segala yang terjadi setelah pertemuan itu sangat di luar dugaan. Saat hati ini mulai goyah, aku memutuskan hubungan yang sudah terjalin lebih dari 8 tahun. Bukan karena ingin pergi dan berlari pada ‘si dia’. Namun hubungan sebelumnya yang tak pernah sehat seharusnya memang diputuskan sedari dulu. Karena melihat kepribadiannya, keputusan besar itu pun berani diambil.
Dengan kebaikannya yang seperti malaikat, aku menyadari arti sebenarnya dari manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Ya, dia adalah role model bagiku dalam hal memupuk kebaikan. Benar-benar luar biasa. Memang tidak ada manusia yang sempurna. Tapi aku menyukai bagaimana dia mau terus belajar dan menjadi lebih baik. Semakin mengenalnya, aku mengetahui kekurangannya yang mulai terlihat. Tapi ‘perasaan’ pun mengatakan bahwa kekurangan itu adalah hal biasa, dan pasti dimiliki oleh semua orang.
Menjadi seorang guru, pada mulanya adalah keputusan yang masih abu-abu bagiku. Tapi lagi-lagi karenanya, aku jadi memutuskan untuk serius menekuni dunia pendidikan. Melihat bagaimana ia mengajar di depan kelas, membuatku selalu ingin berada di bangku paling depan. Mendengar penjelasan dan terkadang cerita yang silih berganti. Ya, lagi-lagi dia menginspirasiku menjadi orang yang lebih baik.
Pada akhirnya, bukan hanya pertemuan pertama itu yang membuatku jatuh dan sampai sekarang belum mampu bangkit. Justru kepribadiannya yang terlihat hari demi hari yang menarik semakin dalam hingga sesak napas. Meskipun hal tersebut meninggalkan risiko yang sangat besar. Aku memutuskan untuk menjaga perasaan ini. Lebih karena rasa hormat yang sudah terlanjur kusematkan padanya. Tak ingin membuatnya jatuh pada kata ‘pacaran’, hingga sampai pada kubangan dosa. 
Tapi yang paling penting dari pertemuan tersebut, aku belajar hal baik tentang cinta. Cinta yang sejati memang tak harus memiliki, pepatah lama. Ketika kita jatuh cinta, seharusnya cinta itu tak selalu diumbar. Cinta akan lebih hidup jika kita menyerahkan perasaan tersebut pada Allah swt. Jika cinta itu memang jodoh yang terpilih, maka Allah akan menjaga perasaan itu hingga saatnya tiba. Tapi jika bukan jodohnya, Allah akan menghapusnya perlahan seiring berjalannya waktu, serta menggantinya dengan orang yang tepat. Karena cinta seharusnya membuat kita lebih hidup, mempersiapkan diri menjadi pribadi yang lebih baik. Untuk kemudian menyambut cinta yang diridhoi-Nya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gel Wash Hydra Oriflame Favoritku

Bromance ala The Tale of Gumiho

Perjalanan Skincare-ku