Pintu itu Bernama Hati

#Day4. Tanpa sengaja, obrolan seputar JNE malam itu berujung pada sebuah keluh kesah antara dua sahabat yang sedang lelah. Lelah mencari tambatan hati. Bukan apa-apa, mungkin dua sahabat itu adalah orang yang sulit membuka pintu hati. Buat mereka, membukanya butuh usaha dan persiapan yang sangat keras. Bukan takut disakiti, tapi komitmen, rasa percaya, dan rasa hormat akan seseorang yang membuka hati tersebut adalah hal yang sangat mereka hargai.


Dalam sebuah hubungan komitmen adalah dasar yang akan menjaga keutuhan antara kedua belah pihak. Ketika masa-masa yang sulit, saat sepasang insan bertengkar, atau bahkan saling memandang pun tak sanggup, di saat itu lah komitmen dibutuhkan. Komitmen yang akan membuat mereka kembali mengingat apa tujuan dari hubungan tersebut, kembali mengutuhkan rasa cinta. Dan pada akhirnya menyelesaikan segala masalah yang ada.
Jika komitmen ada, tapi tidak diiringi dengan rasa percaya, itu hanya akan menjadi bom waktu yang kapan pun bisa meledak. Kecemburuan dan ketidak percayaan yang berlebihan akan selalu menimbulkan masalah jika dibiarkan. Dan siapa sich yang bisa bertahan dalam hubungan yang terlalu dikekang. Sekalipun komitmen itu sudah dibangun sejak lama.
Tidak kalah penting lagi adalah cara setiap pasangan memperlakukan pasangannya yang lain. Agar tetap terjaga dan awet perlu adanya rasa hormat antara keduanya. Dengan begitu, masalah sepele akan menjadi lebih ringan karena mereka saling menghormati. Menghormati segala usaha yang dilakukan pasangan, dan menerima segala kekurangannya.

Idealnya seperti itu. Tapi, pernah merasakan kegagalan yang sangat menyakitkan di masa lalu membuat kedua sahabat tersebut semakin takut untuk membuka pintunya kembali. Terlalu lelah untuk berjuang, terlalu lelah untuk menanggung segala resiko. Salahkah itu?

Nb: edisi curcol.. :D

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gel Wash Hydra Oriflame Favoritku

Bromance ala The Tale of Gumiho

Perjalanan Skincare-ku