Surat Motivasi Diri

Saya, adalah orang yang bisa dibilang cuek, tidak akan ambil pusing ketika mendapat masalah atau ada orang yang tidak suka. Tapi saya, akan sangat ‘down’ ketika tidak ada orang yang bisa jadi ‘tong sampah’ bagi saya. Ketika tidak ada orang yang bisa jadi tempat mencurahkan segala keluh kesah yang dialami. Saya butuh ‘tong sampah’ itu, atau bahkan kecanduan.
Allah selalu bersamaku, tentu saja. Tempat curhat nomor 1 tetaplah Allah SWT. Tapi saya juga menyadari, saya adalah manusia biasa. Bahkan manusia yang masih penuh dosa. Saya butuh seseorang yang bisa mengerti segala apa yang saya keluhkan. Seseorang yang dengan sabar harus mampu menarik saya kembali ke jalan yang benar, ketika membelok. Mungkin, lewat seorang itu lah Allah menunjukkan kasih sayang-Nya. Saya mempercayai itu.


Biasanya, orang tua atau saudara adalah orang terdekat yang akan selalu bisa menjadi tempat kita mengeluhkan permasalahan hidup kan. Tapi berbeda bagi saya. Ada hal-hal yang tidak bisa saya ceritakan pada keluarga, tapi akan saya ceritakan pada sahabat. Begitu sebaliknya. Karena menurut saya, setiap permasalahan perlu solusi, dan kita harus mampu memilih seorang yang bisa membantu kita menyelesaikan masalah tersebut. Orang tua, akan mengambil peran saat saya mengambil keputusan besar dalam hidup. Sedangkan sahabat, akan mengambil peran ketika saya mengalami permasalahan kekinian seperti teknologi atau pun sosial.
Seringkali, saat ‘tong sampah’ itu tidak ada, saya jadi menggila dalam hal negatif. Tak rajin ibadah, malas melakukan aktivitas dan pekerjaan wajib, bahkan murung serta mengurung diri. Hmm... Sepertinya saat itu setan sedang banyak sekali yang berhasil masuk ke dalam aliran darah dan membuat saya kacau. Saat itulah saya merasa jatuh ke dalam sumur gelap nan sempit. Tak bisa bernafas dengan benar, bahkan tak mampu melihat mana yang baik dan mana yang buruk. Rasanya ingin sekali ditarik dari permukaan sana, hingga cahaya matahari menyinari wajah yang kusam akan dosa ini. Tapi karena ‘tong sampah’ yang bisa menarik kepermukaan itu tak ada, siapa yang akan mengangkatku.
Ya, saat itu lah saya butuh sebuah kekuatan untuk bisa bangkit secara mandiri. Tanpa bantuan orang lain yang harus jadi ‘tong sampah’ tersebut. Bagaimana saya bisa melakukannya? Saya lebih memilih menjadi diri sendiri, apapun diri saya. Melewati perjalanan hidup dengan kepala tegak, tanpa harus peduli dengan permasalahan yang ada. Itu lah diriku sebenarnya. Diriku yang dulu. Diriku yang kurindukan. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gel Wash Hydra Oriflame Favoritku

Bromance ala The Tale of Gumiho

Perjalanan Skincare-ku