Malaikat Bersisik

                          

#Day3. Di dunia ini,  ada beribu karakter manusia yang bahkan setetes pun tidak pernah sama. Ada manusia yang merasa dirinya malaikat hingga ingin membahagiakan semua orang yang ada di sekelilingnya. Meskipun pada kenyataan ia hanya seekor nyamuk yang sayapnya mengganggu orang lain. Seekor ular bersisik yang kala dipegang berbahaya bahkan melukai. Dan sayangnya, manusia itu terkadang tidak pernah menyadari keadaan ini.
Bukankah sudah menjadi fitrah manusia jika selalu ingin membahagiakan orang yang disayang? Ingin melihat seberkas senyum di wajah mereka meskipun tengah mengalami kesedihan yang mendalam. Yaa, kadang kala manusia seperti ini justru akan bahagia jika melihat orang lain juga bahagia. Apalagi sumber kebahagiaannya adalah manusia tersebut.
Tidak ada yang salah memang. Sama sekali. Tapi, tak sedikit yang merasa tertekan karena karakter seperti ini. Tertekan karena manusia jenis ini tidak pernah membahagiakan diri mereka sendiri dan sibuk mengurusi orang lain. Bahkan lebih tertekan lagi jika mengetahui bahwa orang lain merasakan kecewa karena ulahnya. Ia merasa menjadi malaikat dan mencoba menebar kebahagiaan ke semua orang, meskipun di balik sayapnya tertancap jutaan pedang.
Manusia jenis ini sering lupa. Bahwa tidak semua orang patut untuk diberi kebahagiaan. Ada manusia yang saat diberi kebaikan makin melambung bahkan sering menjatuhkan. Dan ada manusia yang memang perlu diajak untuk terbang lebih tinggi bersama agar mampu melihat indahnya dunia. Mereka, para penganut karakter macam ini, harus menyadari hal ini agar tak salah membagi kebahagiaan tentunya.
 Lucunya, sering kali ia menyadari bahwa dirinya bukanlah malaikat dan berjalan layaknya manusia biasa. Penuh dosa dan alpa. Tapi entah mengapa langkah itu seakan tak berarti. Manusia itu hanya merusak apa-apa yang ada di sekelilingnya. Bagaikan seekor ular yang bahkan keberadaannya pun terlalu menakutkan. Menyimpan ‘bisa’ yang sewaktu-waktu muncul saat merasa terancam. Dan meninggalkan sisik menjijikkan yang berujung di pembuangan. Pada akhirnya, ia akan terkurung di dalam guanya tanpa mau mencoba hal baru, karena merasa segala yang dilakukannya selalu salah. Merenung. Makin terpuruk, atau bahkan bangkit menjadi lebih kuat.


Begitulah setetes karakter manusia yang beragam. Manusia jenis ini akan terus mencari, mencari habitat yang nyaman dan tepat untuknya. Tempat di mana ia bisa menjadi malaikat tanpa perlu menyakiti jantungnya berkali-kali. Menjadi ular berbisik yang bisanya mampu menyembuhkan bukannya melukai. Ular yang sisiknya bermanfaat bagi orang lain, bahkan membahagiakan. Ia akan terus berusaha mencari makna dari kebahagiaan yang abadi. Sampai benar-benar menemukan surga yang tepat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gel Wash Hydra Oriflame Favoritku

Bromance ala The Tale of Gumiho

Perjalanan Skincare-ku