Syair Hitam

Deretan pintu t’lah kuraba
Perlahan, menanti secercah cahaya
Kuraba...
Dalam dinginnya rintihan hujan
Teriknya semerbak mentari hangat
Bahkan..
Bersama alunan petir memekik telinga

Pintu yang t’lah berlalu terlalu pekat
Pekat meninggalkan hitam
Membusuk dan berongga
Memaksa jiwa untuk ikhlas
Melepas segala cahaya di teduhnya

Kuraba...
Agar tumbuh bersama kehitaman
Menjelmanya bak bunga yang mekar
Lepas, layaknya elang liar
Lembut layaknya jalan merpati
Walau rapuh bagai nafas ilalang

Dan kini masih kuraba...
Enggan membuka hingga terlena
Meskipun teriakkan di dalam terlalu menggoda
Meskipun sedikit rasa t’lah mengembang

Sampai detik jawaban tergelar
Akan kuraba selamanya
Tanpa perlu membuka dengan lapang
Agar mentari tak meredup paksa
Rasa tak menghempas lepas
Damai...
Hingga setitik cahaya menyapu hitam



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gel Wash Hydra Oriflame Favoritku

Bromance ala The Tale of Gumiho

Perjalanan Skincare-ku