Yang Terbakar

Perasaan ini bergejolak. Layaknya api yang membara ketika menghangat. Butiran-butiran hangat menyelimuti dinginnya hati. Menjanjikan kebahagiaan yang telah lama dirindu. Bergejolak dalam irama tak senada yang harmonis. Semakin lama perasaan itu semakin menyelimuti, hingga memenuhi cawan hati yang lemah ini.


Bodohnya, saat api mulai membakar hati dan menggerogoti kesadaran. Ia terlalu panas, terlalu cepat hingga tak ada ruang untuk bernafas. Datang bagaikan meteor yang jatuh dari langit, dan mendarat tepat pada wadahnya. Terlalu cepat. Atau bahkan terlalu memaksa.
Sering kali hati tak mampu menahannya. Membakar terlalu dalam sehingga sesak yang terasa. Membakar terlalu lama hingga bukan kehangatan batin yang didapat. Terlalu lama sampai kehitaman mulai terlihat, sedikit demi sedikit. Makin lama makin jelas terasa.
Tak ada yang salah memang. Ia hanya cerita yang sejatinya akan datang dan pergi dalam kehidupan hati yang rumit. Dengan perlahan, api itu akan melemah. Waktu yang akan menjadi air hingga ia benar-benar padam. Meskipun pada akhirnya hanya akan meninggalkan abu bernama penyesalan. Meninggalkan kehitaman bernama sakit hati. Dan menjadikannya arang bernama kekuatan.

Ya. Sayangnya api itu membakar hati terlalu cepat dan lama. Memang bukan pilihan yang bijak jika kata seandainya menjadi pembelaan akan sebuah kegagalan. Tapi biarkan sejenak kebijakan itu hilang. Biarkan kata menguraikan kelemahannya, dan menjelaskannya bisikan hati. Seandainya api itu tak engkau kobarkan terlalu panas dan cepat, bahkan seandainya bukan cawan hati lemah ini yang engkau jadikan wadah, mungkin segala kegelisahan fana ini tak pernah membakarku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gel Wash Hydra Oriflame Favoritku

Bromance ala The Tale of Gumiho

Perjalanan Skincare-ku