Sepucuk Surat Tetapi
Meninggalkanmu, adalah keputusan paling berat dalam hidup. Karena itu berarti harus merobek separuh hatiku dan mengembalikannya padamu. Merobek sesuatu yang telah dengan sangat erat dirajut. Menyakitkan. Padahal, semula kupikir meninggalkanmu adalah hal yang mustahil. Meninggalkanmu tak pernah terpikirkan sedetikpun dalam angan. Bahkan, seiring berjalannya waktu selalu berusaha mendekatkan hati.
Akan sangat tidak manusiawi jika kata 'tetapi' selalu menjadi ujung dari sebuah kata-kata yang indah. Kata yang akan selalu memutar balikkan perkataan indah tersebut. Menampik kenyataan menyakitkan sebagai pembelaan. Dan kini terpaksa harus kuuraikan dalam sepucuk rangkaian salam perpisahan.
Sebagai bagian dalam hidup yang penuh warna ini, aku sangat menghormatimu. Tak berkurang sedikit pun, semenjak mata kita bertemu. Semenjak cerita itu dimulai. Meskipun memori tak lagi mengingatnya. Entah 9 atau 10 tahun yang lalu. Rasa hormat ini masih terjaga. Karena bagaimanapun juga hanya engkau seorang yang pernah mewarnai segala hidupku. Begitu juga harapan dan citaku. Tak berubah sedikitpun, hingga sekarang. Berharap engkau bahagia, sesederhana itu. Segala perjuanganku, tenaga, pikiran, perasaan, bahkan pengorbanan yang kucurahkan, segalanya hanya untuk kebahagiaanmu.
Tetapi, meninggalkanmu adalah keputusan besar yang kuambil demi kebahagiaanmu. Mungkin engkau sekarang tak mengerti, segala ketidakadilan yang menurutmu telah merenggut harapanmu. Tetapi sekali lagi aku yakin, suatu hari nanti engkau akan mengerti bahwa dengan perpisahan akan membuka jalan baru bagi kita. Ya, jalan yang akan membuatmu lebih berbahagia.
Sepucuk surat ini kutulis setahun setelah perpisahan tersebut. Aku masih tegar, sama seperti pertama kali ku meninggalkanmu. Seribu tanya sempat menghantui nuraniku. Menyesalinya, atau bahkan khawatir engkau tak lagi mampu berdiri tegak menatap masa depan. Tapi sekarang, aku tahu. Hanya diriku lah yang terlalu naif. Menganggap engkau akan terpuruk, padahal dengan tawa lepas engkau menatap masa depan. Menganggap engkau akan tetap bertahan menunggu, padahal dengan wajarnya kau tebar perasaanmu pada orang lain. Terlalu naif.
Benar, jika meninggalkanmu adalah pilihan yang paling sulit dalam hidupku. Tapi itu adalah pilihan paling benar yang pernah kuambil. Kini, biarkan dirimu menatap masa depanmu dengan tawa lepas sekali lagi. Demi kebahagiaanmu. Karena harapanku masih sama, melihatmu bahagia. Dan disini, biarkan aku meniti jalanku sendiri, dengan segala warna yang akan kutemui kembali. Dengan segala untaian harapan yang siap kurajut kembali. Demi kebahagiaanku pula.
Akan sangat tidak manusiawi jika kata 'tetapi' selalu menjadi ujung dari sebuah kata-kata yang indah. Kata yang akan selalu memutar balikkan perkataan indah tersebut. Menampik kenyataan menyakitkan sebagai pembelaan. Dan kini terpaksa harus kuuraikan dalam sepucuk rangkaian salam perpisahan.
Sebagai bagian dalam hidup yang penuh warna ini, aku sangat menghormatimu. Tak berkurang sedikit pun, semenjak mata kita bertemu. Semenjak cerita itu dimulai. Meskipun memori tak lagi mengingatnya. Entah 9 atau 10 tahun yang lalu. Rasa hormat ini masih terjaga. Karena bagaimanapun juga hanya engkau seorang yang pernah mewarnai segala hidupku. Begitu juga harapan dan citaku. Tak berubah sedikitpun, hingga sekarang. Berharap engkau bahagia, sesederhana itu. Segala perjuanganku, tenaga, pikiran, perasaan, bahkan pengorbanan yang kucurahkan, segalanya hanya untuk kebahagiaanmu.
Tetapi, meninggalkanmu adalah keputusan besar yang kuambil demi kebahagiaanmu. Mungkin engkau sekarang tak mengerti, segala ketidakadilan yang menurutmu telah merenggut harapanmu. Tetapi sekali lagi aku yakin, suatu hari nanti engkau akan mengerti bahwa dengan perpisahan akan membuka jalan baru bagi kita. Ya, jalan yang akan membuatmu lebih berbahagia.
Sepucuk surat ini kutulis setahun setelah perpisahan tersebut. Aku masih tegar, sama seperti pertama kali ku meninggalkanmu. Seribu tanya sempat menghantui nuraniku. Menyesalinya, atau bahkan khawatir engkau tak lagi mampu berdiri tegak menatap masa depan. Tapi sekarang, aku tahu. Hanya diriku lah yang terlalu naif. Menganggap engkau akan terpuruk, padahal dengan tawa lepas engkau menatap masa depan. Menganggap engkau akan tetap bertahan menunggu, padahal dengan wajarnya kau tebar perasaanmu pada orang lain. Terlalu naif.
Benar, jika meninggalkanmu adalah pilihan yang paling sulit dalam hidupku. Tapi itu adalah pilihan paling benar yang pernah kuambil. Kini, biarkan dirimu menatap masa depanmu dengan tawa lepas sekali lagi. Demi kebahagiaanmu. Karena harapanku masih sama, melihatmu bahagia. Dan disini, biarkan aku meniti jalanku sendiri, dengan segala warna yang akan kutemui kembali. Dengan segala untaian harapan yang siap kurajut kembali. Demi kebahagiaanku pula.

Komentar
Posting Komentar