Dua Sisi Nasehat
Nasehat. Adalah ujian bagi sang pemberi nasehat, dan pelita bagi yang diberi nasehat. Senang rasanya jika ada yang masih bersedia memberi nasehat pada kita. Mengingatkan ketika salah, menuntun ketika tersesat. Itu adalah anugerah terindah bagi kita, karena masih ada yang bersedia menasehati.
Namun, tak jarang sebagian kita risih kala diberi nasehat. Risih karena menganggap orang lain terlalu mencampuri urusan kita. Merasa bahwa orang lain tak merasakan apa yang dirasa, dan heran ketika nasehat tersebut lancar terucap dari bibir mereka. Tak sepenuhnya salah, karena memang menerima nasehat dari orang lain terkadang sangat berat. Menerima nasehat orang lain artinya kita harus menghilangkan segala ego akan pendapat diri. Ikhlas menerima pendapat orang lain. Dan kemudian merenungi apa yang seharusnya di ambil, untuk dijadikan keputusan.
Ya. Nasehat dari orang lain adalah sebuah pintu yang dibuka atas diri orang lain. Agar kita bersedia menatap sesuatu yang baru. Pendapat baru. Pendapat yang muncul dari dunia luar kita, entah sama ataupun tidak. Nasehat itu akan membimbing kita, jika benar, dan akan menjerumuskan kita, jika salah. Maka, sejatinya nasehat yang diterima tak harus selalu dilaksanakan. Kita punya nurani, yang tak pernah salah. Sandingkan nasehat tersebut di sana, dan nurani lah yang akan menyeleksinya. Baik atau tidak.
Menerima nasehat orang lain memang terkadang sulit. Tapi tahukah engkau apa yang lebih sulit dari perihal menasehati? Bagian yang paling sulit adalah menjadi orang yang menasehati. Ketika seseorang memberi nasehat, sebelumnya, akan muncul berbagai pikiran mengenai nasehat yang tepat. Sesuai kondisi. Jika salah membaca situasi, maka derita lah yang akan disuguhkan. Menyedihkan, sekaligus menyeramkan.
Namun yang sering tidak disadari, ketika seseorang memberi nasehat pada orang lain, maka sejatinya mereka mengundang masalah untuk diri sendiri. Masalah dalam artian bahwa mereka akan diuji dengan hal yang dinasehati. Misal, ketika kita menasehati orang lain untuk bersabar atas kehilangan sesuatu, maka secara ajaib kita akan diuji dengan hal yang sama. Yaitu kehilangan sesuatu. Kita akan diuji apakah kita sanggup menjalankan sesuai nasehat yang kita beri. Begitulah hebatnya sang pemberi kehidupan.
Mengingat begitu hebatnya perihal menasehati, bahkan Allah menyebutkan hal tersebut dalam al quran. Melihat dampaknya yang luar biasa pula, sudah selayaknya kita menjadi pribadi yang lebih bijak saat menyinggung hal tersebut. Bijak dalam memberi nasehat, tanpa menghakimi dan sok tahu, tanpa menjerumuskan, dan tepat solusi. Menerima nasehat orang lain dengan lapang dada juga perlu. Untuk menghargai orang yang telah memberi nasehat, dan menjaga agar perihal menasehati ini tetap suci seperti seharusnya.
Namun, tak jarang sebagian kita risih kala diberi nasehat. Risih karena menganggap orang lain terlalu mencampuri urusan kita. Merasa bahwa orang lain tak merasakan apa yang dirasa, dan heran ketika nasehat tersebut lancar terucap dari bibir mereka. Tak sepenuhnya salah, karena memang menerima nasehat dari orang lain terkadang sangat berat. Menerima nasehat orang lain artinya kita harus menghilangkan segala ego akan pendapat diri. Ikhlas menerima pendapat orang lain. Dan kemudian merenungi apa yang seharusnya di ambil, untuk dijadikan keputusan.
Ya. Nasehat dari orang lain adalah sebuah pintu yang dibuka atas diri orang lain. Agar kita bersedia menatap sesuatu yang baru. Pendapat baru. Pendapat yang muncul dari dunia luar kita, entah sama ataupun tidak. Nasehat itu akan membimbing kita, jika benar, dan akan menjerumuskan kita, jika salah. Maka, sejatinya nasehat yang diterima tak harus selalu dilaksanakan. Kita punya nurani, yang tak pernah salah. Sandingkan nasehat tersebut di sana, dan nurani lah yang akan menyeleksinya. Baik atau tidak.
Menerima nasehat orang lain memang terkadang sulit. Tapi tahukah engkau apa yang lebih sulit dari perihal menasehati? Bagian yang paling sulit adalah menjadi orang yang menasehati. Ketika seseorang memberi nasehat, sebelumnya, akan muncul berbagai pikiran mengenai nasehat yang tepat. Sesuai kondisi. Jika salah membaca situasi, maka derita lah yang akan disuguhkan. Menyedihkan, sekaligus menyeramkan.
Namun yang sering tidak disadari, ketika seseorang memberi nasehat pada orang lain, maka sejatinya mereka mengundang masalah untuk diri sendiri. Masalah dalam artian bahwa mereka akan diuji dengan hal yang dinasehati. Misal, ketika kita menasehati orang lain untuk bersabar atas kehilangan sesuatu, maka secara ajaib kita akan diuji dengan hal yang sama. Yaitu kehilangan sesuatu. Kita akan diuji apakah kita sanggup menjalankan sesuai nasehat yang kita beri. Begitulah hebatnya sang pemberi kehidupan.
Mengingat begitu hebatnya perihal menasehati, bahkan Allah menyebutkan hal tersebut dalam al quran. Melihat dampaknya yang luar biasa pula, sudah selayaknya kita menjadi pribadi yang lebih bijak saat menyinggung hal tersebut. Bijak dalam memberi nasehat, tanpa menghakimi dan sok tahu, tanpa menjerumuskan, dan tepat solusi. Menerima nasehat orang lain dengan lapang dada juga perlu. Untuk menghargai orang yang telah memberi nasehat, dan menjaga agar perihal menasehati ini tetap suci seperti seharusnya.
Komentar
Posting Komentar