Kita Maka Satu (1)


Cinta. Mungkin terlalu klasik untuk dijadikan bahan tulisan. Jutaan puisi, prosa, dan cerita muncul dengan tema cinta. Tidak pernah bosan, karena cinta ibarat pelangi dengan jutaan warna. Tidak pernah berhenti, karena cinta dengan magic-nya membius semua orang mengikuti jalan ceritanya yang tak pernah usai. Ada yang gagal dalam cinta, hingga putus asa dan hilang semangat hidup. Ada yang terjebak dalam cinta tak sewajarnya, yang harus memaksa untuk memilih. Tapi tak sedikit pula yang berbahagia dengan cerita cinta mereka yang luar biasa.


Aku dan kamu. Adalah dua insan yang mungkin dipertemukan cinta dalam rentang masa yang sudah ditakdirkan. Aku, yang telah lelah dengan cinta fatamorgana. Dan kamu, yang pasrah akan perjuangan cintamu. Mungkin kita sudah jenuh dengan perjuangan cinta fana, yang jika diuraikan dalam deretan hujan, tak kan pernah bertemu titik terangnya. Jika tetap berhenti di sana, kita tak kan menemukan pelangi selepas hujan yang telah dinanti.
Tak sama. Ibarat api dan air. Kadang kamu menggebu layaknya kobaran api, dan aku tenang datar seperti air sungai. Terkadang pula kamu tenang tak bersuara, dan justru aku yang membumbung seperti api unggun. Sempat terpikir dalam benakku, akankah dua unsur berlawanan tersebut mampu menyatu dan tetap tenang?
Beribu pertanyaan lainnya melayang-layang di kepalaku. Hingga drama-drama menyakitkan muncul dalam perjalanan menyatukan dua unsur yang berbeda tersebut. Ada kalanya aku menyerah, melupakanmu dan menghempaskan diri kembali ke titik nol. Tapi entah mengapa drama itu tak pernah berhenti, meskipun aku sudah memaksanya memasuki deretan cerita hidupku.
(Bersambung)

#30DWC
#30DWCJilid16
#Day10
#Squad9

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gel Wash Hydra Oriflame Favoritku

Bromance ala The Tale of Gumiho

Perjalanan Skincare-ku