“Histeris: Awkward Moment”
#Day2. Hal-hal yang membuat saya histeris? Emm... Bicara mengenai histeris, itu adalah kata yang tidak ada dalam kamus hidup saya. Singkatnya saya tidak pernah histeris. Bukan karena jaim, tapi karena itu adalah bawaan dari lahir. Tapi karena harus menyebutkan 3 hal yang ‘kemungkinan’ membuat histeris, maka tidak ada salahnya tulisan ini dibuat.
#1Melakukan kesalahan yang fatal. Ya, histeris yang pertama adalah histeris beraroma negatif. Maksudnya, saya akan histeris dengan diri saya sendiri ketika melakukan kesalahan fatal. Apalagi jika kesalahan tersebut membuat saya harus memulai kembali pekerjaan dari awal. Arrggghhhh... Rasanya ingin berteriak pada dunia saat itu juga. (Abaikan!)
Tahukah engkau? Bahwa dalam hidup saya keefektifan adalah hal yang mutlak. Saya tidak bisa mengampuni diri sendiri jika waktu yang sudah saya bagi, antara bekerja dan bersantai, harus terusik hanya karena kesalahan yang dibuat. Ya, saya sudah membagi waktu dalam hidup ini ke dalam dua hal, bekerja dan bersantai. Bekerja, adalah waktu ketika melakukan kewajiban seperti mengajar, melakukan pekerjaan rumah, mengerjakan tugas, dan hal-hal serius lainnya. Sementara kebalikannya, bersantai adalah ‘me time’. Waktu untuk menenangkan pikiran dan tubuh yang sudah lelah bekerja. ‘Me time’ ini bisa dalam bentuk ibadah, menggambar, menulis, atau bermain game. Yang jelas adalah kegiatan yang akan dan harus membuat hati saya senang.
Pembagiannya bagaimana? Misalnya seperti ini. Hari ini saya sudah bekerja mengerjakan skripsi selama 3 jam, dengan berlumuran darah saking pusingnya kepala. Artinya, saya harus bermain game, atau sekedar ngobrol selama 3 jam pula. Hahaha. Bukan pembagian yang bijaksana memang, saya menyadarinya. Tapi itu adalah salah satu prinsip yang mampu mengusir kata ‘stres’ dalam hidup yang berat ini. Bisa dibayangkan dong kalau waktu bekerja saya harus ditambah karena melakukan kesalahan. Sementara waktu bersantai saya harus terpotong juga. Argggghhhh.
#2Menggila. Stop dulu berpikiran bahwa penulis adalah orang gila! Menggila adalah momen spesial yang muncul di waktu-waktu tertentu. Itu adalah keistimewaan yang hanya saya miliki. Ketika momen ‘menggila’ itu muncul, saya akan bernyanyi dengan sembarang nada, tak karuan, sembarang lirik, lagu A, lagu B. Tak hanya itu, jika sudah memasuki puncaknya saya akan menari seperi robot, sementara menunggu mie instan yang mendidih. Atau menghentakkan sumpit, piring, dan sendok menjadi alat musik dadakan. Tak ada batasan.
Nah, di saat itulah saya bisa saja histeris pada hal-hal yang tidak penting. Misalnya histeris saat menemukan teman yang sedang di-bully (histeris senang). Histeris saat berhasil mengunduh variety show Korea favorit yang ber-Mb-Mb. Atau histeris hanya karena melihat foto adik-adik ‘unyu’ favorit yang menjadi ‘moodbooster’. Yeah, itu adalah momen aneh dalam hidup saya. (Belakangan ini sudah berkurang mengingat umur yang tak lagi mendukung).
#3Ngopi. Masih ingat tulisan pada 10DayKF hari 1? Ngopi adalah ‘ngobrol pintar’ yang biasanya dilakukan bersama teman-teman satu kos. Terdiri dari 4, atau kadang-kadang 5 orang, yang uniknya memiliki golongan darah berbeda. Golongan darah A, B, O, dan AB. Alhasil, ketika kami ngobrol, banyak sekali pikiran-pikiran yang tersaji karena ketidaksamaan kepribadian yang kami miliki. Sangat menyenangkan dapat bertukar pikiran dengan mereka. Super, karena mereka adalah orang-orang spesial menurut saya. Si A yang perfeksionis, memiliki imajinasi bak Cinderella. Si B (penulis), yang cuek dan kadang menggila. Ada juga si O yang tegas, berjiwa pemimpin, dan bertanggung jawab. Ditambah lagi si AB yang ‘out of the box’ dan kadang membuat geram.
Yeah. Saat kami bersatu, adalah momen yang membuat saya bahagia karena mampu membuka pikiran ke arah yang lebih luas. Menemukan hal-hal baru dan akhirnya menuntun saya menuju tahap ‘menggila’. Sampai pada akhirnya menjadi histeris pada hal-hal tidak penting. Bisa dibilang, histeris yang satu ini adalah histeris karena bahagia. Sssttt.. Saat itulah saya merasakan bahagia yang sebahagia-bahagianya...
Bicara mengenai histeris, menurut saya ‘ia’ adalah aksi dari luapan emosi yang berlebihan. Sementara luapan emosi yang berlebihan adalah aib yang seharusnya ditutupi. Luapan emosi senang, marah, sedih yang terlalu memenuhi relung hati dan pikiran akan mengacaukan kita. Maka, tidaklah bijak jika mengumbar perasaan itu secara berlebihan di muka umum. Bukankah akan lebih ‘cool’ jika kita jadi pribadi yang tenang. Tetap tenang meskipun bahagia tidak karuan, dan bahkan tetap tenang saat kesedihan melanda.
Tentunya, untuk dapat menjadi pribadi yang tenang kita harus mendekatkan diri pada Allah swt, sang pemberi ketenangan. Ingatlah Dia di saat perasaan berlebihan mulai menggelayuti hati. Agar tak ada celah bagi kita untuk meluapkan emosi tersebut secara tak terkontrol. Seperti kata jargon yang terkenal, Keep Calm and Stay Cool!!
Komentar
Posting Komentar